Resolusi Jihad Kaum Santri ( NU )

Posted: 15 November 2011 in Ke islaman

Sebelum pecah perang Revolusi yang berpuncak pada peristiwa 10 Nopember 1945, Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU) Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy�ari mengeluarkan Fatwa Jihad. Itulah Resolusi Jihad NU yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945. Bagaimana kisah para ulama NU dan kaum santri di balik peristiwa besar yang mengawali perang di Surabaya itu? Lalu pertimbangan apa hingga Bung Tomo meneriakkan �Allahu Akbar� berulang-ulang?

PERAN dan perjuangan para ulama, khususnya di lingkungan pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU), dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, tak bisa diabaikan apalagi dihapuskan, meski penulisan sejarah resmi sangat minim mengungkap peran tersebut, bahkan cenderung menghapuskannya. Kalau pun menyebut, sekadar singgungan tanpa secara jelas mencantumkan ketokohan ulama atau kiai pesantren yang dimaksud.

Sejak zaman penjajahan Belanda, sejumlah nama bisa diketengahkan berperan aktif dalam perjuangan. Seperti Rais Akbar NU Hadlratussyaikh Hasyim Asy�ari, KH Wahab Chasbullah (selain tokoh NU, juga pendiri Majelis Islam �Ala Indonesia, 1937), KH Machfudz Siddiq (Jember), KH Ma�shum (Lasem), dll. Mereka lebih banyak melakukan perjuangan diplomasi lewat organisasi dan mengiringi proses pembentukan watak dan karakter bangsa (nation and character building).

Bila perjuangan dimaknai sebagai �mengangkat senjata� bisa dilacak lewat perlawanan KH Zainal Mustafa dari Pesantren Sukamanah (Ketua PCNU Tasikmalaya) pada tahun 1944. Perlawanan ini sebenarnya sebagai prolog dari perlawanan di daerah lain, Cirebon, Cianjur, hingga Blitar atau yang terkenal dengan Pemberontakan Supriyadi Blitar. Juga peran KH Abbas di Cirebon (ayahanda KH Abdullah Abbas) dalam melawan Jepang dan KH Ruchiyat (ayahanda KH Ilyas Ruchiyat, mantan Rais Aam PBNU), yang pesantrennya pernah diberondong Belanda pada masa revolusi.

Pada masa-masa Jepang, aktivitas persiapan perang sudah dilakukan. Bagi kalangan pesantren telah dikenal adanya Laskar Hizbullah (kader-kader pesantren) dan Laskar Sabilillah (para kiai dan ulama). Mereka dilatih di Cibarusah, dekat Bogor sejak 1943. Dari mereka inilah, ketika mempertahankan kemerdekaan 1945-1949 (revolusi) mereka tampil menjadi komandan pasukan. Seperti KH Masjkur (dari Singosari, ayah mertua KH Tolchah Hasan) dan KH Zainul Arifin sebagai pemimpin Laskar Sabilillah. Sedang di Laskar Hizbullah terdapat nama KH M. Hasyim Latief (pendiri YPM Sepanjang) dan KH Munasir Ali (Sekjen PBNU).

Perjuangan di Daerah

Dalam persiapan kemerdekaan Indonesia, tokoh NU yang langsung terlibat dalam pelbagai perjuangan, antara lain KH Wahid Hasyim dan KH Masjkur. Mereka adalah founding fathers (Bapak Pendiri) negeri ini, 17 Agustus 1945, bersama Soekarno, Hatta, Sjahrir, H Agus Salim. Dalam deretan ini, dari Muhammadiyah terdapat KH Kahar Muzakkir dan KH Mas Mansur.

Di luar semua itu, kerap perjuangan para kiai dan ulama di daerah-daerah yang mengangkat senjata, dilupakan. Di sejumlah daerah, para kiai bahu-membahu dalam melakukan perjuangan mempertahankan kemerdekaan 17 Agustus 1945, ketika pasukan Belanda berusaha menjajah kembali Tanah Air kita.

Para pelaku sejarah kita telah tiada, seperti KH Masjkur (Singosari), KH Wahid Hasyim, KH M Hasyim Lathief (Sepanjang), KH Munasir Ali (Mojokerto), KH Sholeh Iskandar (sekitar Bogor), KH Ilyas (Lumajang). Yang bisa dilakukan bagi generasi Nahdliyin adalah mempelajari sekaligus mewarisi semangat mereka dalam lini perjuangan, sesuai bidang masing-masing, tetapi dalam kerangka untuk mengembangkan dan memperjuangkan NU.

Sebelum meletusnya perang 10 November 1945 di Surabaya, didahului dengan Resolusi Jihad NU tertanggal 22 Oktober 1945, yang ditandatangani Hadlaratussyaikh KH Hasyim Asy�ari. Intinya menekankan fatwa perjuangan melawan Belanda merupakan jihad fisabilillah yang wajib dilakukan kaum muslimin. Sayangnya, perjuangan ulama dan kaum santri ini kerap dilupakan orang. Juga dalam penulisan sejarah nasional Indonesia.

Iklan

Globalisasi

Posted: 15 November 2011 in Budaya

Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan.

Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian W. Pye, 1966 ).

Namun, perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antarbangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antarbangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.

Ciri berkembangnya globalisasi kebudayaan

  • Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional.
  • Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalism), dan kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya.
  • Berkembangnya turisme dan pariwisata.
  • Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain.
  • Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain lain.

Ideologi Pancasila

Posted: 15 November 2011 in Ke indonesiaan

I. Pengertian dan Fungsi Ideologi
Nama ideologi berasal dari kata ideas dan logos. Idea berarti gagasan,konsep, sedangkan logos berarti ilmu. Pengertian ideologi secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan, kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan keagamaan.
Ciri-ciri ideologi adalah sebagai berikut :

  1. Mempunyai derajat yang tertinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan.
  2. Oleh karena itu, mewujudkan suatu asas kerohanian, pandanagn dunia, pandangan hidup, pedoman hidup, pegangan hidup yang dipelihara diamalkan dilestarikan kepada generasi berikutnya, diperjuangkan dan dipertahankan dengan kesediaan berkorban.

Fungsi ideologi menurut beberapa pakar di bidangnya :

  1. Sebagai sarana untuk memformulasikan dan mengisi kehidupan manusia secara individual. (Cahyono, 1986)
  2. Sebagai jembatan pergeseran kendali kekuasaan dari generasi tua (founding fathers) dengan generasi muda. (Setiardja, 2001)
  3. Sebagai kekuatan yang mampu member semangat dan motivasi individu, masyarakat, dan bangsa untuk menjalani kehidupan dalam mencapai tujuan. (Hidayat, 2001)

II. Pancasila sebagai Ideologi Bangsa
Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah Pancasila sebagai cita-cita negara atau cita-cita yang menjadi basis bagi suatu teori atau sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa Indonesia, serta menjadi tujuan hidup berbangsa dan bernegara Indonesia.
Berdasarkan Tap. MPR No. XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan MPR tentang P4, ditegaskan bahwa Pancasila adalah dasar NKRI yang harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

III. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka
Makna dari ideologi terbuka adalah sebagai suatu sistem pemikiran terbuka.
Ciri-ciri ideologi terbuka dan ideologi tertutup adalah :

Ideologi Terbuka
a. merupakan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat.
b. Berupa nilai-nilai dan cita-cita yang berasal dari dalam masyarakat sendiri.
c. Hasil musyawarah dan konsensus masyarakat.
d. Bersifat dinamis dan reformis.

Ideologi Tetutup
a. Bukan merupakan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat.
b. Bukan berupa nilai dan cita-cita.
c. Kepercayaan dan kesetiaan ideologis yang kaku.
d. Terdiri atas tuntutan konkret dan operasional yang diajukan secara mutlak.

Menurut Kaelan, nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah sebagai berikut :
a) Nilai dasar, yaitu hakekat kelima sila Pancasila.
b) Nilai instrumental, yang merupakan arahan, kebijakan strategi, sasaran serta lembaga pelaksanaanya.
c) Nilai praktis, yaitu merupakan realisasi nilai-nilai instrumental dalam suatu realisasi pengamalan yang bersifat nyata, dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara.

PERTANYAAN :
1) Mengapa Indonesia menggunakan ideologi terbuka?
2) Bagaimana cara menumbuhkan kadar dan idealism yang terkandung Pancasila sehingga mampu memberikan harapan optimisme dan motivasi untuk mewujudkan cita-cita?

JAWABAN :

  1. Karena Indonesia adalah sebuah negara dan sebuah negara memerlukan sebuah ideologi untuk menjalankan sistem pemerintahan yang ada pada negara tersebut, dan masing-masing negara berhak menentukan ideologi apa yang paling tepat untuk digunakan, dan di Indonesia yang paling tepat adalah digunakan adalah ideologi terbuka karena di Indonesia menganut sistem pemerintahan demokratis yang di dalamnya membebaskan setiap masyarakat untuk berpendapat dan melaksanakan sesuatu sesuai dengan keinginannya masing-masing. Maka dari itu, ideologi Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah yang paling tepat untuk digunakan oleh Indonesia.
  2. Kita harus menempatkan Pancasila dalam pengertian sebagai moral, jiwa, dan kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia keberadaanya/lahirnya bersamaan dengan adanya bangsa Indonesia. Selain itu,Pancasila juga berfungsi sebagai kepribadian bangsa Indonesia. Artinya, jiwa bangsa Indonesia mempunyai arti statis dan dinamis. Jiwa ini keluar diwujudkan dalam sikap mental, tingkah laku, dan amal perbuatan bangsa Indonesia yang pada akhirnya mempunyai cirri khas. Sehingga akan muncul dengan sendirinya harapan optimisme dan motivasi yang sangat berguna dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.

PMII Harus Lebih Kompetitif

Posted: 15 November 2011 in PMII

  Perubahan Indonesia sangat tergantung oleh tiga hal, Politisi, Birokrasi, dan professional.  Posisi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah sebagai agen yang mempersiapkan kader dalam tiga hal tersebut. Karenanya, PMII harus melakukan tiga hal. Pertama, merubah system organisasi.  Kedua, merubah penampilan, ketiga, merubah pola kaderisasi.

Demikian dinyatakan Nusron Wahid pada acara Pelatihan Kader Lanjutan (PKL) yang diadakan oleh Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jakarta, Jum’at (19/3). Karenanya, menurut Nusron, PMII harus mempersingkat pola kaderisasi.
Dalam pandangan Nusron, pola kaderisasi PMII saat ini dibuat pada tahun 70-an, pada saat itu, masa kuliah mahasiswa relative lebih lama, tujuh tahun. Namun saat ini, masa kuliah mahasiswa labih singkat, sehingga, pola kaderisasi harus dipersingkat, agar mahasiswa tidak terlalu lama mengikuti proses kaderisasi

“Hal ini mutlak harus dilakukan demi mempertahan keberadaan PMII dekade mendatang. PMII harus lebih kompetitif dalam dua hal, individual dan kepemimpinan. PMII harus mampu menyiapkan kader dengan kualitas personal yang professional, serta mampu memimpin apapun dalam konteks kehidupan berbangsa dan beragama, kata mantan ketua umum PMII ketika Gus Dur menjadi Presiden ini.

Menurut Nusron, PMII terlalu sering mengadakan acara nasional yang melibatkan seluruh PC di seluruh Indonesia, sehingga membutuhkan banyak tenaga dan biaya yang menghabiskan energi PMII. Dalam satu periode saja, PB PMII harus mengadakan Kongres, Musyawarah Pimpinan Nasional (MUSPIMNAS), belum lagi jika ada acara nasional yang sifatnya aksidental.

“Pengurus Cabang jauh-jauh datang dari berbagai daerah, berkumpul di suatu tempat, namun ujung-ujungnya tidak bisa pulang”, celetukya.

Di depan 40 PC PMII, ia menghimbau agar PMII tidak terlalu sering memobilisasi masa untuk berkumpul di suatu tempat.

“Kita gunakan teknologi, sekarangkan sudah waktunya memanfaatkan teknologi, jika PMII mampu menggunakan jejaring Face Book, itu akan lebih murah dan cepat”, imbuh anggota DPR RI ini.

“Lebih baik dana dan tenaga yang tersedia digunakan untuk program yang lebih bermanfaat. “misalnya, untuk beasiswa”, imbuhnya.

Gerakan

Posted: 15 November 2011 in umum

Carut marutnya kondisi bangsa ini memang menuntut kerja extra, dari kerja pikiran, fisik bahkan dengan berdo’a, ada satu tradisi yang sebenarnya hingga hari ini masih cukup efektif untuk di gunakan sebagai pilihan gerakan dalam mengawal perubahan, meski banyak kalangan yang menyebut bahwa pilihan gerakan ini sudah basi bahkan cenderung merugikan, saking parahnya orang yang sama sekali tidak pernah di benturkan dengan kondisi yang mengharuskan untuk melakukannya menyebut gerakan ini sebagai gerakan yang kolot dan merugikan masyarakat pada umumnya, sekilas memang iya !!! . tapi apakah demikian ? tentu tidak bagi para pelakunya, banyak asumsi yang bisa kita munculkan untuk orang” yang berkomentar seperti di atas, mungkin : 1. dia punya pilihan gerakan yang lebih kreatif, efektif dan inovatif 2. dia tidak suka aksi gerakan massa 3. dia tidak mempunyai keberanian yang cukup 4. korban media yang selalu menayangkan kesan buruk dari gerakan ini. tapi itu semua tidaklah penting, karena yang terpenting hari ini adalah bagaimana kita melihat kondisi bangsa ini dan berfikir apa yang bisa kita lakukan ? sehingga kita akan di bawa ke beberapa pilihan gerakan yang akan menuntun kita dalam mengawal cita” perubahan. yang salah satunya adalah ” aksi Gerakan Masa ” apa uniknya, dan apa menariknya ? tentu banyak…^^ selain bisa kita lakukan secara berjama’ah gerakan masa merupakan satu”nya gerakan control, mengingatkan bahkan menegur yang sangat nampak dan terasa oleh para pemimpin negri ini, bagi pelakunya akan ada banyak nilai tambah yang bisa di dapat mulai dari belajar meneriakkan kebenaran, menata mental sampai belajar memperjuangkan hak” orang lain. meski gerakan masa hari ini mengalami krisis kepercayaan dari kebayakan masyarakat. namun media sebenarnya yang memegang peranan penting dalam upaya membangun opini publik hari ini, karena baik/buruknya gerakan massa tergantung bagaimana awak media menampilkannya, pesan yang ingin disampaikan atau chaos kah.. ? karena bukan rahasia lagi bahwa media hari ini lebih suka menampilkan kemasan gerakan yang radikal, revolusioner dan kawan”nya. tapi jika berbicara PMII maka seharusnya tidak perlu tawar menawar lagi, karena PMII sebagi oraganisasi pengkaderan dimana sahabat/i PMII khususnya pengurus selalu di tuntut untuk melakukan transformasi nilai serta mendidik kader dalam upaya membentuk pribadi kader mujahid maka semakin banyak pilihan gerakan maka semakin banyak pula cita” perubahan yang akan tercapai.

أهلاً وسهل

Posted: 13 November 2011 in umum

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.